Tari Muang Sangkal Sumenep

Tari Muang Sangkal dari Sumenep Dulu Tergolong Tarian Sakral

Kemunculan tari muang sangkal tidak dapat dipisahkan dari Keraton Sumenep. Pada zaman dahulu di Keraton Sumenep setiap ada tamu penting selalu disambut denga tari tayub yang gerakannnya belum dibakukan. Baru pada tahun 1891 gerakan tari tayub mulai dibakukan dengan ciri awal gerakan tari sangat halus dan lembut.

Terinspirasi dari tari tayub tersebut, pada tahun 1962 Taufiqurrachman menciptakan sebuah tari yang kemudian disebut tari muang sangkal. Taufiqurrachman lahir pada tanggal 10 Oktober 1947 di Sumenep. Sebagai keturunan bangsawan Sumenep, tentu saja sejak kecil ia sudah akrab dengan berbagai adat dan tata cara keraton.

Tari muang sangkal diciptakan sebagai bentuk rasa peduli terhadap Keraton Sumenep dan alam Madura pada umumnya. Jadi tari muang sangkal sebenarnya merupakan tari kreasi baru yang kemudian dipandang sebagai tari tradisional, karena sudah mengalami regenerasi turun-temurun.

Tauifqurrachman menciptakan tari muang sangkal dengan memasukkan kembali ‘roh’ pola-pola budaya (kesakralan) yang ada di Keraton Sumenep, meskipun keraton tersebut saat itu sudah tidak ‘eksis’ lagi. Tari muang sangkal merespons situasi baru dengan mengambil bentuk referensi dari situasi lama, atau membangun masa lalu mereka sendiri dengan melakukan pengulangan semu-wajib.

Tradisi ‘kesakralan’ seperti penarinya harus perawan dan tidak sedang menstruasi, berjumlah ganjil dan setiap akan tampil selalu dibacakan doa adalah ‘ciptaan’ sang pencipta tari sendiri (Taufiqurrachman) dengan berkiblat/berpatokan pada keraton. Ciri khas lain tari muang sangkal adalah penarinya memakai dodot legha khas Sumenep dan pada saat menari membawa sebuah cemong (bokor) kuning berisi beras kuning yang di atasnya ditaruh bunga mawar, melati dan irisan daun pandan.

Tari muang sangkal mempunyai beberapa fungsi. Pertama, cerminan dan legitimasi tatatan sosial. Hal ini dapat dicermati berdasarkan ‘syarat-syarat’ yang harus dipenuhi pada saat akan dipentaskan. Fungsi kedua adalah ekspresi ritus yang bersifat sekuler maupun religius.

Tari muang sangkal menyimbolkan tarian yang bersifar sakral dan agamis yaitu doa agar diberi keselamatan. Beras kuning yang ditabur penari adalah lambang menolak bala atau memohon keselamatan. Sesuai namanya muang sangkal, artinya membuang sial atau tolak bala. Fungsi ketiga adalah hiburan atau rekreasional.

Pada mulanya tari muang sangkal hanya berkembang di kalangan eksklusif keraton, tetapi pada akhirnya keluar juga dari keraton. Nilai kesakralannya juga memudar, lebih-lebih setelah  penciptanya meninggal. Tari yang semula difungsikan untuk menyambut tamu penting (misal di keraton dan dalam acara perkawinan) sekarang dapat dipentaskan kapan saja dan di mana saja.

Selain itu dalam beberapa hal juga mengalami perubahan. Bila dahulu penari hanya memakai kemben (kain penutup dada) sekarang memakai baju brokat, kemudian kostum atau busana ditambah pernik-pernik sehingga tampak elegan dan anggun. Durasi tarian yang dulu 13 menit dikurangi menjadi 7 menit, dengan cara mengurangi gerakan-gerakan yang sama dan berulang. Khejungan/tembang atau nyanyian yang dulu selalu ada, sekarang dapat ditiadakan untuk mempersingkat waktu.

Sanggar Tari Potre Koneng adalah salah satu sanggar tari yang mempunyai andil besar dalam mengembangkan dan menyebarluaskan tari muang sangkal. Sanggar tari pimpinan Edy Susanto ini sudah berkali-kali mementaskan tari muang sangkal, bahkan sampai ke luar Madura. Edy Susanto sendiri adalah murid Taufiqurrachman. Edy Susanto mengembangkan tari Muang Sangkal dengan beberapa inovasi atas izin Taufiqurrachman. Inovasi itu tentu saja tidak merubah pakem yang baku.

Tari Muang Sangkal Sumenep

Tari Muang Sangkal Sumenep

Judul: Tari Muang Sangkal dan Pengembangannya. Di Sanggar Tari Potre Koneng Sumenep Madura Jawa Timur
Penulis: Sukari, Th. Esti Wuryansari
Penerbit: BPNB, 2019, Yogyakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: xii + 136

Tags

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×