Candi Barong

Seluk-beluk Candi Barong yang Patut Diketahui

Candi Barong terletak di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kurang lebih 4 kilometer di sebelah selatan Candi Prambanan, dengan ketinggian tanah 199,27 meter di atas permukaan air laut.

Lingkungan geografis candi Barong berupa perbulitan kapur di bagian timur dan utara, sedangkan di bagian barat dan selatan merupakan ngarai. Perbukitan ini merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Seribu zona Gunung Kidul bagian utara.

Candi Barong beserta kawasan sekitarnya merupakan kawasan peninggalan sejarah yang menunjukkan unsur-unsur agama Budha dan Hindu pada abad IX-X Masehi. Nama Barong ini berkaitan dengan adanya dekorasi berbentuk kala yang dalam bahasa Jawa lazim disebut dengan barongan.

Candi Barong didirikan di atas perbukitan yang tandus, dengan masyarakat pendukungnya saat itu sebagai petani. Dengan kondisi seperti ini mereka memilih Dewa Wisnu (dewa pemelihara) dan Dewi Sri (sakti Dewa Wisnu, yang dalam masyarakat dipuja sebagai dewi padi) sebagai pujaan/sesembahan utama. Dengan harapan keduanya akan memberi berkah kesuburan dan keselamatan. Bukti bahwa Candi Barong merupakan candi Wisnu (dan Dewi Sri) adalah ditemukannya arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri.

Kompleks Candi Barong terdiri dari empat teras/halaman. Teras pertama merupakan bagian inti (paling sakral) dengan kedudukan paling tinggi. Bangunan intinya terdiri dari dua buah candi dengan ukuran 8,18 meter x 8,18 meter dengan tinggi 9,05 meter. Teras kedua merupakan penghubung antara bagian inti (teras I) dengan teras III.

Ukuran teras II adalah 62,81 meter x 90,72 meter, dan perbedaan tinggi dengan teras I adalah 2,5 meter. Teras III merupakan bagian yang profan, dengan ukuran 128,718 meter x 86,219 meter. Demikian pula ters IV juga merupakan bagian yang profan.

Hiasan yang terdapat dalam Candi Barong dapat dibagi dua yaitu konstruktif dan dekoratif. Hiasan konstruktif berfungsi sebagai pembentuk bangunan (masuk dalam konstruksi bangunan). Selain sebagai unsur estetis, keberadaannya harus memenuhi teknis bangunan. Sebagai contoh  bingkai-bingkai mendatar dan tegak, pilaster, lengkung relung, makara pada pipi tangga, jaladwara, kemuncak/ratna candi.

Hiasan dekoratif adalah hiasan yang berfungsi untuk memperindah bangunan. Bila dihilangkan tidak akan merubah bentuk bangunan. Sebagai contoh motif geometris, kala makara, untaian permata, bentuk-bentuk binatang, makhluk kayangan, relief, motif tumbuhan dan hewan.

Candi Barong mempunyai beberapa keistimewaan. Antara lain, tata letaknya menunjukkan adanya kontinuitas dengan tradisi masa prasejarah khususnya masa megalitikum/kebudayaan batu besar. Kontruksi bangunan didirikan pada sebuah bed rock sebagai alasnya, dengan cara sedikit mengepras perbukitan padas dan mengurig di bagian rendah.  

Sebagai Candi Hindu, fokus pemujaan lebih ke Dewa Wisnu, dibanding Candi Hindu lain yang fokus ke Dewa Siwa.

Keberadaan Candi Barong berhasil diketahui berdasarkan catatan Belanda tahun 1915. Pada saat ditemukan oleh orang Eropa, sebagian besar bangunan runtuh dan tidak terawat, menyerupai bukit batu yang ditumbuhi belukar. Pemerintah Indonesia kemudian melakukan serangkaian pemugaran. Pemugaran dilakukan setelah para ahli melakukan penelitian dan menyatakan layak serta  memenuhi syarat untuk dipugar.

Judul: Barong, Candi Wisnu di Bukit Kapur
Penulis: Herni Pramastuti, dkk
Penerbit: BP3, 2005, Yogyakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman:  88

Tags

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×