Malam hari di gumuk Parangtritis

Totok HK Terus Berkarya Meski Tak Tahu Kapan akan Berpameran

Ketika Tembi di Gandaria, Jakarta masih menyelenggarakan pameran rutin setiap bulan, sejumlah perupa dari Yogyakarta pernah menggelar pameran di tempat ini, salah satunya Totok  Hadianto Kuswaji, yang namanya sering ditulis  Totok HK. Totok menggelar karyamya berupa batik, lukisan cat air dan skets. Beberapa dari lukisannya dikoleksi oleh pengunjung yang hadir melihat pamerannya.

Selama pendemi covid 19 menghalagi orang untuk saling bertemu, dan banyak orang yang memilih bekerja di rumah, yang disebut sebagai working from home, tidak terkecuali para perupa, yang memang sehari-harinya sudah bekerja di rumah dalam melukis, tetapi belum bisa menggelar karyanya di ruang pamer.

Totok juga tetap berkarya, meskipun tahu bahwa karyanya belum bisa dipamerkan. Tapi karena pameran dan berkarya dua hal yang berbeda, Totok tetap berkarya menghasilkan beberapa karya lukisnya, dan entah kapan akan dipamerkan. Tiga karya yang telah diselesaikan dia menggambar gumuk pasir di Parangtritis.

Mengapa gumuk pasir?

Bulan Purnama di Gumuk Parangtritis

Bulan Purnama di Gumuk Parangtritis

Karena Totok ingat akan lokasi itu,dan dulu 40 tahun lebih yang lalu sering berkunjung di Parangtritis dan bermain di gumuk pasir. Struktur gumuk pasirnya indah untuk dilihat sehingga ia senang bermain di tempat itu. Apalagi kalau malam hari, di bulan purnama betapa indahanya gumuk pasir.

Tetapi sekarang, Totok melihat gunung pasirnya banyak yang rusak, seolah tidak terawat. Strukturnya banyak yang berantakan sehingga keindahan seperti yang pernah ia lihat dulu, tidak ditemukan. Pendeknya, keindahannya sudah pudar. Maka, untuk merespon sekaligus mengingat keindahan gumuk pasir, Totok melukis gumuk pasir yang indah, seperti yang dulu pernah ia lihat.

Dua dari tiga lukisan yang dia buat memperlihatkan keindahan gumuk pasir, setidaknya seperti ingatannya masa lalu, dan diberi judul ‘Malam hari di Gumuk Pasir’ dan ‘Bulan Purnama di Gumuk Pasir’. Dua lukisan ini menyajikan visual gumuk pasir yang indah, dan cahaya bulan purnama menerangi hamparan gumuk pasir. Satu lukisan lainnya diberi judul, ‘Kerusakan Gumuk Pasir’, dalam lukisan ini Totok menyajikan visual gumuk pasir yang tidak terawat dan bentuknya tidak lagi indah.

Kerusakan Gumuk Parangtritis

Kerusakan Gumuk Parangtritis

Karena hari-harinya banyak di rumah, Totok membongkar foto-foto dokumentasi miliknya, salah satunya menemukan foto tahun 1970-an ketika ia berada di gumuk pasir, dan lokasinya masih terlihat indah. Untuk mengkristalkan ingatannya itu, ia melukis gumuk pasir, dan untuk merespon gumuk pasir yang sudah mulai rusak, ia melukis gumuk pasir yang sekarang orang bisa melihat.

“Saya hanya ingin membandingkan gumuk pasir sekarang dengan gumuk pasir yang dulu pernah saya lihat melalui lukisan” ujar Totok.

Totok, yang sekarang usianya 67 tahun, sudah sejak tahun 1973 menggelar pameran karyanya, meski tidak berupa pameran tunggal. Pada tahun itu, ia sering pameran bersama ayahnya Kuswaji Kawindrosusanto, seorang pelukis batik terkenal pada waktu itu. Ia juga pernah pameran di Hotel Borobudur, Jakarta pertemgaham tahum 1970-an, selama 3 kali pameran di tahun yang berbeda.

Ia juga pernah pameran lukisan karyanya di Bentara Budaya Jakarta dan Yogya di tahun, yang berbeda-beda. Selain itu, ia pernah ikut pameran bersama di Belgia. Puluhan kali pameran, dalam jarak tahun yang berbeda-beda pernah ia lakukan, baik pameran tunggal atau pameran bersama.

“Di tengah pendemi covid 19 ini, saya terus melukis, soal kapan pameran perkara nanti. Yang penting menghasilkan karya, begitu situasinya aman, jika ingin pameran karya sudah tersedia”, kata Totok HK. (*)

Tags

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×