Wayang Cina - Jawa di Yogyakarta

Karya Pembauran Wayang Cina – Jawa Setelah Hanya Bisa Bertahan Selama 40 Tahun

Etnis Cina  sejak lama datang dan bertempat tinggal di Yogyakarta. Mereka merasa aman dan nyaman tinggal di Yogyakarta, karena penguasa kerajaan Yogyakarta (Sultan Hamengku Buwana) memberi perlindungan sekaligus tempat tinggal. Mereka membaur dengan kalangan kerajaan maupun masyarakat biasa.

Pembauran yang terjadi mempertemukan dua kebudayaan yang berbeda dan menyebabkan terjadinya interaksi saling mempengaruhi, sehingga memunculkan bentuk ‘kebudayaan baru’. Salah satu bentuk kebudayaan baru dari pembauran adalah wayang Cina – Jawa.

Penemu dan pembuat wayang Cina – Jawa adalah seorang seniman peranakan (keturunan campur antara Cina dan non-Cina) yaitu Gan Thwan Sing. Ia sekaligus bertindak sebagai dalang.

Wayang ini bercorak Cina dalam hal wajah dan tata busana, tetapi ragam hiasnya ada yang bercorak Jawa ada yang bercorak Cina. Tata cara pertunjukan, alat-alat perlengkapan pertunjukan dan musik pengiring sama dengan wayang kulit Jawa.

Cara dan kaidah-kaidah mendalang tak jauh berbeda dengan cara dan kaidah-kaidah wayang Jawa. Susunan buku lakon mengikuti pola pakem pedalangan Jawa. Bahasa dan aksara juga menggunakan bahasa dan aksara Jawa. Tetapi cerita yang diambil dari Cina seperti mitos, legenda maupun cerita nyata (terutama tentang kepahlawanan).

Mula-mula ruang lingkup pementasan hanya di kalangan Cina terutama Cina peranakan. Lambat laun menyebar ke masyarakat di luar Cina, terutama masyarakat Jawa. Menjelang tahun 1940-an menyebar ke pantai-pantai utara Jawa seperti Kudus dan Semarang. Bahkan kemudian meluas ke Jawa Timur, seperti Madiun, Kediri, Pare, Probolinggo, Surabaya dan Malang.

Wayang Cina – Jawa sebagai salah satu jenis pertunjukan mempunyai beberapa fungsi, seperti untuk hiburan, fungsi ekonomi (mencari uang), media pembauran/kerukunan dan pendidikan.

Gan Thwan Sing kemudian mendidik dalang baru sebagai penerus yaitu Raden Mas Pardon, Megarsemu, Pawiro Buwang dan Kho Tian Sing. Para dalang inilah yang menjadi penunjang utama dalam pengembangan dan kelangsungan hidup wayang Cina – Jawa sampai awal tahun 1940.

Setelah berkembang dan tersebar luas selama hampir 40 tahun pertunjukan wayang Cina – Jawa berakhir. Pertunjukan terakhir tahun 1966 di halaman klenteng Gondomanan Yogyakarta. Waktu itu Gan Thwan Sing sudah tua dan sakit-sakitan, sementara para dalang hasil didikannya sudah mendahului. Dan Gan Thwan Sing sudah tidak mampu lagi melakukan regenerasi.

Judul: Wayang Cina – Jawa di Yogyakarta
Penulis: B. Soelarto, S. Ilmi Albiladiyah
Penerbit: Depdikbud, 1980/1981, Jakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: iii + 134

Koleksi Perpustakaan Tembi Rumah Budaya

Wayang Cina - Jawa di Yogyakarta

Wayang Cina – Jawa di Yogyakarta

Tags

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×