Marjudin Suaeb

Puisi Marjudin Suaeb

Bicara Usia

Hitung tanggal ompong itu gigi
Sebaya usia dan hati putih menguban
Silakan tua tumbuh tua-tua tuah
Bukannya tua latah tanpa cermin kaca

Kian ringkih. Tapi kian bertuah doa ” pangestunya”
Kian goyah namun kian berkah
(Wahai sang waktu
ternyata aku tak mampu genggam kamu)

Yk.2020

 

Berita Keempat Juli 2020

Pastilah tak ingat 1000 th yang lalu
Saat bencana tiba para alim ulama ajak ummat
Masuk peribadatan bersangka kiamat
Kini bencana tak terduga
bencana tak kentara
Pengusaha bertumbangan

Usaha kecil-kecilan
Menggeliat meski melata-lata

Gusti. Tak tersebut juga di kelu lidah
Oleh ajaran tolol otak kanan kiri kami

Bencana apalagi yang ‘kan tiba
Yang bangkitkan aku dari perosok sombongku

Yk.2020

 

Di Tepian Jalanan Nasional

Catat berkali-kali sirine
Ambulans siapa kian terseok
Isyarat suara rakyat kian parau
Terkapar di bangku ICU RSU

Saat mata terpaku di tepian jalan
Tanpa marka tanpa lampu bangjo
Mayat siapa lagi kecuali pejuang
Menjeritkan demokrasi pancasila

Saat gotong royong kian terpinggir
Meski aku dan tetangga suka kerjabakti
Dan padatkarya memberiku sedikit nafkah
Hingga sayup masih terdengar : Ayo maju maju.. !

Yk. 2020

 

Berita Pertama

Dengar tangkap dan catat
Antara hoax canda dengan perintah
Tersela-sela iklan kotbah dan isyarat
Bahwa fatwa tak lebih sebagai alat
Tersusun harap
Terangkai orasi akal
Hingga terbaca lagi berita
Bahwa situasi kian terkendali

Ada sedikit gesek-gesek
Tapi selesai kekeluargaan
Meski berita berlanjut
Dan peristiwa tiada habisnya

Yk. 2020

 

Amsal Sebuah Peti

simpan sembunyi perkara
kerna aib seperti tak terbaca
Segerakan tutup
Meski seribu mata mengintai

Tidak
Tidaklah sesuatupun tersembunyi

Kerna Sang Gusti
Tak pernah tidur sare

Yk 2020

Marjuddin Suaeb lahir Kulonprogo 13 Maret 1954. Alumni IKIP ( kini UNY ). Alumni INSANI. Alumni RENAS, ketemu Umbu di PSK. (meski tinggal buntutnya sebelum beliau pergi dari Yogya.) Puisinya terkumpul di Ziarah berdua dengan Budi Nugroho yang sama suka melihat demo mahasiswa di Yogya. Antologi Yogya 3 Generasi, Parangtritis, Gunungan, Genderang Kuru Kasetra, Silhuet, Gondomanan 15 ( alumni RENAS ), Cermin Akhir Tahun (FKSS IKIP YK). Dan pernah baca puisi di pembukaan pameran lukis Putu Wijaya . Kumpulan puisi tunggal : Bulan Bukit Menoreh. Namanya masuk di Apa & Siapa Penyair Indonesia.

Category
Tags

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×