Puisi Yuliani Kumudaswari

Seorang Perempuan yang Belajar Berimajinasi tentang Sebuah Kursi 

Yang terbayang di benaknya
Hanya sepasang kaki jenjang tak berkasut
Fasih menari-nari ritmis di kolong meja
Menyusur tungkai seseorang di meja sebelah
” Ayo , keluarkan imajimu
Beri ia api, angin, awan bahkan petir sekalipun” dorong sang mentor
Ia ingin sebuah dejavu melintas sepersekian detik saja
Itu cukup sebagai arsiran denah bagi bayang-bayang liar
Yang keluar berlarian dari kerangka pikirnya yang rancu
Memupus jati diri sebongkah kursi hingga hancur berkeping
Ia membayangkan seorang lelaki  berperut bundar
Serupa wajah di berita pukul tujuh tempo hari
Menancapkan sebilah pisau di sebidang sandaran kursi
Menyeringai seakan telah ditikamnya perut-perut tambun sang rival
Ia mencoba menuliskan dari sudut lain
Sebuah kursi yang memiliki hati selembut domba
Yang bermimpi memiliki sepasang sayap
Untuknya terbang dan hinggap di beranda yang berkilau sinar matahari
Ayo, jangan kekang imajinasimu
Biarkan beranak pinak ” saran sang mentor
Perempuan itu tertegun 
(Telah kutuliskan tentang kursi dan mereka yang  entah
Bukankah begitu, wahai perempuan? )
Seorang perempuan terus sibuk menuliskan imajinasi
Tentang sebuah kursi yang kini telah ia beri sepasang kaki jenjang,  sebilah pisau, dan sepasang sayap
Ia luput menuliskan tentang sebuah kursi yang tabah dibawah tindihan tubuhnya
Sebentuk rupa yang senantiasa luput dalam risalah imaji
Sementara benaknya dipenuhi gambaran kursi-kursi beledu yang telah menyeret sepasang kekasih
Ke altar yang melenyapkan keakuan kecuali mereka memilih desersi
“Tuliskan, tuliskan wujud kursi di benakmu
Dan biarkan mewujud menjati diri”  gugah sang mentor
Ia menyingkirkan gambaran kursi
Bukankah telah cukup dituliskan?
Sedang kursi ysng didudukinya tak menawarkan sepotong mimpipun
Lalu ia jatuh berdebum bersama  semua imajinasi

Semarang ,Juli 2020

Antara Kopi, Aku dan merindumu

Tak lebih sepuluh menit
Didihan air dan segelas kopi
Tak serupa semuncung gula
Yang sibuk kau timbang-timbang
Mungkin bisa kau pilih cara rumit
Vietnam drop , French press, Turkish coffe
Dibanding kopi tubruk yang tak jua siap
Sementara yang mengangguku
Semata bayang  caramu menyesap
Dan meraup pekat legam kopi
Menjadi bayang kelam di bola matamu
Yang tak pernah sempurna purnama
Mungkin lidahku terlalu fasih
Menyecap pahit yang bertahan
Atau barangkali hasratku terlalu lasak
Tak terbebat, liar menyulur imaji
Bersama atau tanpamu
Seraya mengingat percakapan- percakapan
Di rentang seduhan satu dan yang lain
Lalu sibuk menebak rupa ampas yang tersisa
Dirimu dan segelas kopi yang murung
Bersama berdepa-depa jarak
Yang senantiasa gagal terpangkas
Di beranda senja samar menyeruak
Jingga yang tak lagi ranum
Dan musim yang tertinggal jauh
Kubayangkan lengkung senyummu urung mekar
Kemuraman mengapung sarat
Aku rindu

Semarang, Juli 2020

Seseorang yang Sedang Mengajarkan Filia

Temui dia, jangan dalam rupa kekalutan
Biarpun tak ingin, biarpun berat kau rasa
Bayangkan kota yang kau jelang
Bersolek sumringah di bawah cahaya
Dan dendang di antara langkahmu
Waktu berjalan linear dan pasti
Tak labil, tak berbelok arah serupa inginmu yang ambigu
Yang tertinggal sebanding yang tersunting
Dan sejuta pilihan di antara kemungkinan
Selayak yang tertulis di amsal-amsal para bijak
Temui dia, tanpa menoleh kebelakang
Jika inginmu adalah cerita baru yang kau kenang kelak
Yang enggan kau akui sebagai irisan kerompeng dadamu
Atas mati dan hilangnya lelatu dalam dingin sorot mata
Lalu ucapkan dalam bahasa apapun : adios

Semarang, Juli 2020

Masa Datang Bulan

Betapa mudah kau mengubah wajah pagi
Menjadi sebuah kerapuhan yang mengambang
Pembawa berita di TV yang terus berbicara
Tertawa sendiri pada anekdot absurd yang dibacanya
Entah mana yang harus kusesap
Secangkir air jahe dingin ataukah kopi yang kehilangan kepul
Hatiku sarat kehilangan kekang
Melekang meraup ceceran masygul yang kau umbar ruah
Pagi masih saja  menggantung sayu
Parau jerit kutilang  menyaru seekor gagak
Kemurungan barangkali sebuah karut yang membuncah
Dan bayang dirimu bersidekap bagak mengeraskan punggung
Betapa mudah kau mengubah wajah pagi
Menyampuk cahaya menjadi serpihan
Anggap saja yang kutulis hanyalah sebuah rumor
Tetapi datanglah bersama semua senyum yang kau punya agar pagi lahir baru

Semarang,  Juli 2020

Legundi di Sudut Timur

Ditanamnya legundi di sudut timur
Menghadap kemuning dan rumpun azalea
Sepohon mengkudu menjulang sendiri
Riang menjatuhkan buah setengah busuk
Telah ia siangi teki-teki liar hingga akar
Cintanya bagi rumpun jarak wungu
Yang dengan jerih ia kejar hingga lereng merapi
Dan sepasang lars pudar bertabur debu 
Mekarlah , mekar wahai Wijaya Kesuma
Semerbaklah engkau duhai kemuning
Biarlah malam bertandang mengaburkan segala
Menujumu tiada aku hilang arah, batinnya
Sebatang legundi di sudut timur
Di bawah naungan bungur yang kian elok
Segenap cinta bagi sebuah latar
Lukisan perempuan kehilangan mata

Semarang, Juli 2020

Yuliani Kumudaswari. Lahir di Bandung Juli 1971, menikah, punya dua putri,  sejak November 2019 menetap di Semarang.  Beberapa puisinya tergabung dalam antologi bersama di antaranya Wajah Ibu (2016), Menyandi Sepi (2017), Rumah Kita (2018), Kepada Hujan di Bulan Purnama (2018), Membaca Hujan di Bulan Purnama (2019), Kepak Sayap Waktu dan Mata Air Hujan di Bulan Purnama (2020). Antologi tunggal 100 Puisi Yuliani Kumudaswari (2016), Perempuan Bertatto Kura-kura (2017), Menyusuri Waktu (2018), Wajah Senja (2019), Kepada Paitua (2020)

alamat email : yulianikumudaswari@ymail.com no telp/wa : 082165254418

Category
Tags

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×