Eddy Pranata

Puisi Eddy Pranata PNP

Setiap Ia Lempar Sepi ke Pinggir Kali

Setiap ia melempar sepi ke pinggir kali, berkali-kali kecipak
Air memantul dan menggema; berapa lama lagi tangan maut
Merenggut jantungmu? Akh, pertarungan belum selesai
Malam masih menawarkan anggur, dan suara jangkrik itu
Suara belalang itu– terus saja berorkestra serupa nyanyi
Kehidupan yang masih sangat panjang, maka jangan bicarakan
Tentang tangan maut merenggut jantung, tetapi mari kita tenggak
Anggur kehidupan yang menyala serupa api, membakar batu usia
Menjadi segala arang yang bernama kebaikan-kebaikan.

Jaspinka, 2020

Sepotong Senja Serupa Mawar

Entah yang ke berapa kalinya, telah engkau kirim sepotong senja
dan aku selalu menerima dengan hati bahagia

: “Sepotong senja berkilau cahaya serupa hatimu, yang kadang
gemerlap serupa kunang-kunang, yang sejuk memesona
serupa puisi!”

Dan sekarang kuterima sepotong senja serupa mawar
lengkap dengan tangkai, daun dan durinya. Ciah!

Jaspinka, 2020

Sudah Berapa Lama Berdiri di Dermaga

Sudah berapa lama engkau berdiri di dermaga Sleko
Di bawah gerimis senja, dan perahu-perahu merapat
Berbanjar-banjar digoyang-goyang ombak gelombang
Engkau pulang membawa harapan yang pecah
Di sekitar Nusakambangan sudah tidak banyak ikan

Engkau pun kemudian beranjak dari dermaga
Pergi kota lain yang jauh, memecah matahari
Dan menarik-narik buhul nasib yang kusut.

Jaspinka, 2020

Terlanjur Menyukai Gerimis Senja

Dan engkau telah terlanjur sangat menyukai gerimis senja
Hatimu senantiasa berdebar ketika pelangi melengkung
Jatuh di ujung bukit Sinawing, melewati rumah kecilmu
Sesaat kemudian langit merah jambu dan gerimis berhenti

“Pelangi itu memecah, kadang serupa rindumu kadang serupa
suara jiwamu kadang serupa setangkai edelweis kadang serupa
masa lalu yang jingga, akh, serupa rindu yang menyala-nyala!”

Tak ada yang bisa memahami kesukaanmu pada gerimis senja.

Jaspinka, 2020

Sesampai di Puncak Bukit

Sesampai di puncak bukit, engkau tatap sekeliling yang dekat
Dan yang jauh dengan sorot mata berbinar
Tidak jauh di sebelah kanan; rumpun edelweis
Di sebelah kiri yang rendah, curam dan jauh– hamparan laut
Biru tua berkilauan diterpa matahari

Engkau begitu takjub, angin semilir, hati-jiwamu melayang ke langit

“Tetapi hati-hatilah, kabut tebal dan hujan bisa turun tiba-tiba
Engkau harus segera turun dari puncak bukit!”

Dan benar kabut tebal tiba-tiba mengapung, engkau terperangah
Gerimis melebat, engkau menuruni bukit dengan sesekali terjatuh
Sesekali terguling, sesekali berpegangan akar-akar yang menjulur

“Tuhan, hidup memang sering dengan kejutan, dengan tantangan
Puncak bukit telah banyak mengajariku tentang perjuangan
Kearifan dan hal-hal yang mendebarkan!”

Jaspinka, 2020

Eddy Pranata PNP— meraih anugerah Puisi Umum Terbaik Lomba Cipta Puisi tahun 2019 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Hari Puisi Indonesia. Juara 1 Lomba Cipta Puisi Sabana Pustaka tahun 2016, Nomine Penghargaan Sastra Litera tahun 2017 , 2018, 2019. Nomine Krakatau Award 2017 dan 2019. Sejak tahun 2014 mengelola Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat, Indonesia. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019).

Puisinya dipublikasikan di Horison, Litera, Kanal, Jawa Pos, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Banjarmasin Pos, Suara NTB, Solopos, dan lain-lain.

Puisinya juga terhimpun ke dalam antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Bersepeda ke Bulan (2014), Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Matahari Cinta Samudera Kata (2016), Negeri Awan (2017), Seutas Tali Segelas Anggur (2017), Hikayat Secangkir Robusta (2017), Mengunyah Geram (2017), Negeri Bahari (2018), Kepada Hujan di Bulan Purnama (2018), Monolog di Penjara (2018), Kota Kata Kita (2019), Negeri Pesisiran (2019), Reruntuhan di Bukit Kapur (2019), Mata Air Hujan di Bulan Purnama (2020).

Category
Tags

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×