Pewarna Alami Batik dan Wayang

Mengenal Pewarna Alami Wayang dan Batik yang Ramah Lingkungan

Wayang dan batik adalah salah satu hasil kebudayaan masyarakat Jawa. Di Daerah Istimewa Yogyakarta kerajinan wayang kulit dapat ditemukan di Desa Bangunjiwo, Kasihan, Bantul dan Wukirsari, Imogiri, Bantul. Sedangkan batik dapat dijumpai di Desa Girimulyo, Imogiri, Bantul. Buku ini membahas tentang proses pembuatan wayang kulit di daerah Wukirsari, Imogiri dan batik di daerah Giriloyo, Imogiri, Bantul.

Pembuatan wayang maupun batik melalui proses tertentu secara bertahap sampai siap pakai. Salah satu proses  adalah tahap pewarnaan.Pewarnaan wayang ataupun batik memiliki sejarah panjang dan diwariskan secara turun temurun. Pengetahuan tentang pewarnaan (bahan, alat, proses) mengalami perkembangan dari waktu ke waktu dan pengrajin berusaha menghasilkan produk yang berkualitas bagus.

Pada mulanya pengrajin menggunakan pewarna alami yang terdapat di sekitarnya, baik yang berasal dari tumbuhan (misal mahoni, pinang, mangga, secang) maupun binatang (tulang). Setiap warna yang terdapat pada batik maupun wayang  mempunyai makna tertentu. Warna yang ada pada kain batik merupakan representasi perjalanan hidup manusia dari lahir sampai menghadap Tuhan. Warna yang terdapat pada wayang mempresentasikan watak tokoh wayang tersebut.

Pewarna alami ini memiliki beberapa kelebihan. Seperti baunya bisa menjadi aroma terapi (tetapi bisa menjadi sebaliknya bagi yang tidak tahan), nilai jualnya tinggi karena prosesnya lebih lama dan rumit, mudah didapat dan sangat terjangkau, bersifat organik dan pencemarannya juga lebih sedikit serta dapat dipakai berkali-kali. Kekurangannya, bahan-bahan tertentu warnanya cepat memudar, kurang cemerlang/kontras, peracikan warna membutuhkan waktu lama dan sering hasilnya tidak sama.

Saat ini di samping pewarna alami, pengrajin juga menggunakan pewarna sintetis. Pewarna alami masih dipakai dalam pembuatan batik. Tetapi pewarna alami untuk wayang justru ditinggalkan. Alasannya antara lain lebih praktis tinggal pakai, mudah didapat atau dibeli, warna lebih kontras atau cemerlang dan juga lebih tahan lama pada kulit wayang.

Judul: Pewarna Wayang dan Batik Berbahan Alami: Warisan Sistem Pengetahuan Tradisional Masyarakat Imogiri yang Ramah Lingkungan.
Penulis: Indra Fibiona
Penerbit: Dinas Kebudayaan,—, Yogyakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: ii + 61

Koleksi Perpustakaan Tembi Rumah Budaya

Tags

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×