Rosihan Anwar, Wartawan yang Juga Budayawan

Rosihan Anwar lahir di Kubang Nan Dua, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 10 Mei 1922. Sekolah Rakyat (Hollandsch Inlandsch School, HIS)dan Sekolah Menengah Pertama (Meer Uitgrebreid Lager Onderwijs, MULO)diselesaikan di Padang, Sumatera Barat. Kemudian ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (Algemene Middelbare School, AMS)di Yogyakarta.

Rosihan Anwar adalah seorang penulis, sastrawan, budayawan sekaligus wartawan. Sebagai seorang penulis Rosihan Anwar sangat produktif. Kegiatan menulis sudah dilakukan sejak sekolah dan semakin terasah saat di AMS.

Rosihan Anwar memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter koran Asia Raya pada masa pendudukan Jepang tahun 1943-1945. Rosihan Anwar adalah pendiri dan  pemimpin redaksi Siasat (1957-1957) dan juga Pedoman (1948-1961).

Pada tahun 1961 Pedoman dibreidel oleh penguasa, tetapi hal ini tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap menulis. Pedoman mendapat ijin terbit lembali pada masa Orde Baru. Pada tahun 1968-1974 Rosihan Anwar menjabat sebagai ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Tahun 1973 Rosihan Anwar mendapat anugerah Bintang Mahaputra III dari pemerintah. Tetapi tidak sampai setahun dari anugerah tersebut Pedoman kembali dibreidel oleh pemerintah. Sekali lagi hal ini tidak mematahkan semangat Rosihan Anwar untuk menulis.

Kariernya di media atau surat kabar lain, misal menjadi reporter di harian Merdeka (1945-1946), kolumnis Bussines News (1963-..), kolumnis Kompas (1966-1968), koresponden harian The Age Melbourne, harian Hindustan Times New Delhi, kantor berita World Forum Features London, mingguan Asian, Hongkong (1967-1971).

Sebagai seorang penulis atau wartawan Rosihan Anwar tidak pilih-pilih topik dan permasalahan. Baginya semua menarik, penting dan mempunyai fungsi tertentu. Dalam mencari berita Rosihan Anwar tidak segan-segan terjun atau mendatangi daerah dan narasumber, sekalipun sulit dan hampir mustahil. Medan perang, tokoh politik dan pemerintah, serta perjalanan ke berbagai daerah, baik dalam maupun luar negeri dapat menjadi tulisan yang penting dan menarik. Baginya tulisan harus jujur, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Rosihan Anwar tidak menyerah dan mundur karena tekanan berbagai pihak.

Buku ini selain menceritakan perjalanan Rosihan Anwar sebagai wartawan, juga menceritakan kegiatan Rosihan Anwar di bidang lain. Misalnya dalam seni peran (drama dan film) juga politik.

Judul                  : Menulis dalam Air. Sebuah Otobiografi

Penulis                : Rosihan Anwar

Penerbit             : Sinar Harapan, 1983, Jakarta

Bahasa               : Indonesia

Jumlah halaman : 376

Koleksi Perpustakaan Tembi Rumah Budaya

Tags

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×