Java-Instituut

Dokumentasi Berharga tentang Java-Instituut, yang Punya Ikatan Historis dengan Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Java-Instituut didirikan tanggal 4 Agustus 1919 di Surakarta. Pendirinya PAAP  Prangwadana (kelak bergelar Mangkunegara VII), R Dr Hoesein Djajadiningrat, R Sastrowidjono dan Dr FDK Bosch. Tujuan utamanya adalah untuk mendorong perkembangan kebudayaan Jawa, Madura, Sunda dan Bali dalam arti yang seluas-luasnya melalui berbagai macam kegiatan.

Java-Instituut mendapatkan dana dari pemerintah kolonial Belanda di Batavia, juga dari keempat raja di Surakarta dan Yogyakarta, iuran anggota, uang langganan majalah dan tiket masuk. Sesekali dapat dana dari undian dan subsidi perusahaan dan pemerintah kotapraja.

Dalam buku ini ditampilkan foto banyak kegiatan lembaga tersebut, antara lain kongres pada Desember 1919 di Surakarta mengenai sejarah dan kebudayaan di Jawa, Madura dan Bali. September 1926 di Surabaya, membahas tentang musik Hindu Jawa; sejarah, musik dan sastra Madura serta makna sisa-sisa bangunan Majapahit. Pagelaran seni, antara lain wayang wong di Bandung pada tahun 1924 dengan lakon Narasoma, Samba Sebit dan Sumbadra Larung

Selain itu, ditampilkan foto pergelaran wayang wong tahun 1934 di Yogyakarta dengan lakon Semar Boyong, Rama Nitik dan Rama Nitis, untuk memperingati ulang tahun ke-56 Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Tahun 1937 mengadakan sayembara penulisan roman Jawa, Sunda dan Madura.

Ada pula dokumentasi peresmian Museum Sonobudoyo oleh Sultan Hamengku Buwono VIII pada  6 November 1935. Sultan yang juga pelindung museum menghadiahkan tanah bangunan museum (terletak di Alun-alun Lor) kepada Java-Instituut. Tujuan utama museum adalah memberikan gambaran mengenai perkembangan sejarah kebudayaan Sunda, Jawa, Madura dan Bali.

Sekolah Kerajinan Tangan (Kunst Ambachtschool, KAS) didirikan tahun 1939 dengan bantuan dana dari pemerintah di Batavia dan Den Haag. Peresmiannya 1 Maret 1941 dengan pelindung KGPAA Praboe Soerjadilaga (kelak Paku Alam VIII) yang juga anggota dewan pengurus Java-Instituut. Tujuan sekolah adalah memberikan pendidikan (selama 2 tahun) tentang kerajinan ukir emas, perak dan kayu. Karena perang sekolah ini hanya sempat menghasilkan satu lulusan (1939/1941).

Java-Instituut menerbitkan empat majalah yaitu Djawa (bahasa Belanda), Poesaka Djawi (bahasa Jawa), Poesaka Soenda (bahasa Sunda) dan Poesaka Madhoera (bahasa Madura). Majalah Djawa terbit pertama kali April 1921 dan edisi terakhir tahun 1941. Poesaka Djawi terbit pertama kali pertengahan 1922 dan bertahan sampai 1941. Poesaka Soendha terbit pertama kali juga tahun 1922 dan bertahan selama 7 tahun (1929). Sedangkan Poesaka Madhoera terbit pertama kali tahun 1924 dan hanya bertahan selama setengah tahun.

Java- Instituut dalam akta notaris tercantum didirikan untuk jangka waktu 29 tahun. Karena tidak diperbaharui, Java-Instituut bubar/dibubarkan demi hukum pada 4 Agustus 1949. Yang masih ada dan bertahan/dipertahankan adalah museum Sonobudoyo.

Buku ini adalah katalog pameran foto-foto  yang dimiliki oleh  Java-Instituut. Sonobudoyo menyelenggarakan pameran salah satunya adalah sebagai pengingat ikatan sejarahnya dengan Java-Instituut. Pameran dilaksanakan bekerja sama dengan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV- Lembaga Budaya, Bahasa dan Sejarah) yang sedang berulang tahun ke-150. Koleksi foto tersebut adalah salah satu sumber sejarah yang dimiliki Museum Sonobudoyo di bidang kebudayaan Jawa, Madura dan Bali.

Java-Instituut

Judul: Java-Instituut dalam Foto
Penyusun: Jaap Erkelens
Penerbit: KITLV + Museum Sonobudoyo, 2001, Yogyakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: vi + 74

Koleksi Perpustakaan Tembi Rumah Budaya

Tags

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×