Bersandar, OOC, 90 x 60 cm, 2019, Karya Rr Condro Pusposari-Foto-A.Sartono

100 Perupa Perempuan Berkiprah Bersama di Pendhapa Art Space

Seratus karya seni rupa dari tangan 100 perempuan dalam berbagai ukuran, gaya, teknik, gagasan, dan lain-lain tentu merupakan jumlah karya yang cukup banyak dan tampilan visual yang sangat variatif, kaya, dinamis, sekaligus meriah. Itulah karya-karya yang dipamerkan di Pendhapa Art Space beberapa waktu lalu. Ada 9 perempuan yang menginisiasi atau melibatkan diri dalam pameran tersebut.

Tidak bisa dipungkiri apa yang dinamakan pameran bersama adalah ajang kompetisi di antara sesama anggota pameran. Masing-masing tentu akan menakar, menanggapi, dan menilai karya orang lain dan kemudian membandingkan dengan karyanya sendiri. Hal demikian bisa sangat disadari oleh para perupa yang ikut pameran itu sendiri atau bahkan juga tidak disadari. Barangkali kesadaran itu muncul di lain waktu.

Pameran bersama juga selalu membeberkan referensi “baru”. Perupa boleh suntuk dalam karyanya dan boleh percaya diri bahwa karyanya adalah karya yang paling baik di tengah-tengah karya lainnya. Akan tetapi dalam pameran bersama perasaan semacam itu mendapatkan tantangannya: benarkah? Bagaimana jika dibandingkan dengan karya si A atau si B?

Persona #2, ACC, 120 x 150 cm, 2020, karya Zeta Ranniry Abidin-Foto-A.Sartono

Persona #2, ACC, 120 x 150 cm, 2020, karya Zeta Ranniry Abidin-Foto-A.Sartono

Pada sisi lain mungkin juga muncul perasaan atau pikiran bahwa karyaku ternyata tidak sebagus karya orang lain. Perasaan atau pikiran semacam itu bisa dipandang sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja karena pada banyak sisi hal ini justru menyuarakan kejujuran hati. Akan tetapi perasaan atau pikiran semacam itu perlu dibangun secara lebih positif dan konstruktif.

Artinya, di balik kesadaran yang semacam itu mesti dibangun niat-niat atau tekad baru yang menyala bahwa ke depan saya harus berkarya dengan teknik, gagasan, dan lain-lain yang menjadikan karya saya jauh lebih baik daripada karya yang saya pamerkan kali ini.

Suasana pameran seni rupa Terkadang Kita Lupa di Pendhapa Art Space-Foto-A.Sartono

Suasana pameran seni rupa Terkadang Kita Lupa di Pendhapa Art Space-Foto-A.Sartono

Pameran 100 perupa wanita ini juga menunjukkan betapa ada begitu banyak kaum wanita di Indonesia yang punya potensi besar dalam hal karya seni rupa. Tentu hal ini tidak bisa dilihat sebelah mata. Wanit ternyata memiliki potensi yang tidak kalah dengan kaum lelaki dalam hal berkarya seni rupa. Pameran ini cukup menjadi bukti akan hal itu.

Dewi Sri, 2019, karya Wiwiek Poenk Art Flashion-Foto-A.Sartono

Dewi Sri, 2019, karya Wiwiek Poenk Art Flashion-Foto-A.Sartono

Oleh karenanya kaum wanita memiliki kedudukan yang sejajar dengan kaum lelaki. Pun dalam hal urusan berkarya seni, termasuk seni rupa. Intinya, kehadiran kaum wanita di dunia seni, khususnya seni rupa turut menjadi kekayaan SDM seni di Indonesia. Mereka hendaknya diberi tempat dan kesempatan yang sama luasnya dengan kaum lelaki untuk mengekspresikan segala kemampuan mereka. Pameran seni rupa menjadi salah satu wujud dari semuanya itu.  (*)

Category
Tags

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ×